Senin, 09 Desember 2019

nirmana

nirmana


nirmana

nirmana

nirmana

nirmana

nirmana

nirmana

nirmana

Minggu, 03 November 2019

membasuh

Selama ini,kunanti
Yang kuberikan datang kembali.
Tak kunjung pulang.

Sepenggal lirik dari kolaborasi Hindia dengan Rara Sekar yang sarat akan kejujuran.

Untuk kamu yang sudah 19 tahun 27 hari hidup di dunia ini.
Sebulan belakangan kita sedang dilanda masalah,tentang kamu yang tak paham arti sayang yang saya maksud,tentang kita yang akhir akhir ini berselisih,tentang egoku dan egomu yang tak kunjung menyatu.

Setelah seminggu belakangan masalah mencapai klimaksnya,perspektif kita tak kunjung larut menjadi satu,malah seperti air dan minyak dalam wadah yang sama

Saya hanya ingin kamu mengerti,
Saya selalu ada untukmu,
Selama hati masih kamu genggam
Selama itu saya akan terus ada
Sampai Tuhan mengembalikannya kepadaku
Dan jika Tuhan malah menukar hati kita?
Siap tak siap tetap harus kita jalani.
Yang bisa saya beri hanya rasa tulus,
Saya tak bisa marah kepadamu
Sudah berulang kali kucoba
Kamu orang ketiga,yang membuatku berani bertatap mata.
Ketiga setelah Ibu dan Adikku.
Menatap matamu,seperti api besar yang ditelan laut.
Hangat rasanya.

Mohon maaf jika saya belum bisa mengerti kamu,hidupku juga berat
kita memikul beban yang sama
Hanya saja,mungkin kita berjalan dalam lintasan elips
yang awalnya setitik,lalu berpisah dan akhirnya kembali lagi

Tugasku menyayangimu,perihal itu akan berbalik kepadaku?
saya tak memintanya
Saya hanya meminta yang terbaik buat kita
Bahkan jika kita hanyalah pelabuhan untuk bersandar sementara
Saya rela

Kadang benakku bentrok dengan perasaanku
Perihal menyatakan perasaanku saat waktunya belum tepat
Terlalu dini untuk menyatakan
Mungkin membuatmu risih

Bahkan benakku belum mengerti isi hatiku, apakah hati ini sudah benar benar punyamu?atau hanya menyimpan kagum untuk menjagamu lebih lama

Kamu berubah

Kita yang dulunya tak mengenal jaim satu sama lain
Sekarang justru menjaga jarak
Saya terlalu memprioritaskanmu
Bahkan kesibukanku tak berarti saat pesan masuk darimu berlabuh di notifikasi.
Pertanda topik kita akan segera habis

Di tulisan ini,saya hanya ingin jujur bahwa kamu adalah manusia biasa sama sepertiku
untuk ucapan yang kataku saya tak pantas untuk memilikimu?
yah itu memang benar,tapi hanya perkara waktu saja
saya tidak ingin memilikimu dengan batas kekasih.
Lebih dari itu,dimana tak ada pengekangan,cukup saling percaya
tak ada intimidasi,cukup saling menyemangati
tak ada rasa sakit hati,cukup saling peduli

Kita sederajat,kita sama sama manusia perihal saya tak pantas memilikimu hanya pikiran berlalu saja.
sekarang
kita berjalan beriringan,entah tujuan kita kemana
saya tak peduli
Yang ada hanya
Kamu seekor burung tanpa sayap
Dan saya,sayap pelindungmu

Saya harap,dengan menulis tulisan ini perasaan yang berkecamuk didada saya bisa reda.
Sakit rasanya jika terus memendam.
Tulisanku ini mewakili pesan didalam lubuk hati yang sedang sekarat.

Yang terakhir

Setelah membaca history chat kita,saya akhirnya sadar
yang kurindukan bukan hanya sosokmu bahkan juga kenangannya.

Terimakasih

Sedikit air,yang kupunya
Milikmu juga bersama
Bisakah kita tetap memberi
Walau tak suci
Bisakah terus mengobati
Walau membiru
Cukup resah tuk mengasihi,tuk mengampuni
Tanpa memperhitungkan rasa yang lain
Walau kering bisakah kita tetap
Membasuh

Selasa, 03 September 2019

a


 Hai,saya Rezky

 sedang berusia 18 tahun

 Ini adalah keluh kesah saya

 Selama ini,hidup yang saya jalani terkesan   biasa saja.
 Kenapa saya mengatakannya?


Lahir dikalangan keluarga yang sibuk memikirkan laba dan jumlah barang, saya dibesarkan dengan ideologi seorang pengusaha, yah pengusaha.

Ayah saya dulunya seorang pegawai kantoran,sarjana teknik elektro universitas merah tahun 1986,seorang bos dalam keluarga kecilku yang merangkap pegawai di sebuah perusahaan besar, ayahku seolah seperti fisikawan,ia selalu marah jika saya membawa pulang oleh oleh semisal nilai ulangan harian fisika dan matematika yang rendah.
Setiap ia marah,ijazah Ayah yang menunjukkan modus b dan c dan hanya ada 1-2 A dan A- selalu terlintas dibenakku,bagaikan sebuah bengkel ditengah lintasan balap,bagaikan sebuah mobil ferrari berkecepatan 200km/jam yang ingin mengganti ban yang aus, Ayah memaki-ku padahal nilainya sendiri sepadan denganku.

Ibu saya dulunya seorang lulusan SLTA/sederajat,entah lulus tahun berapa yang jelas beliau lahir tahun 1973,bisa dihitung kan? Selisih umur lulusan SLTA dan tahun kelahirannya, yap sekitar tahun 1991, sepuluh tahun sebelum saya menghembuskan nafas pertama.
Ibu saya adalah seorang yang sabar dan dan terkesan kepo,setiap saya pulang ia selalu ingin mendengar cerita saya walau hanya cerita tentang satpam sekolah yang ban motornya saya kempeskan karena parkir di pinggir lapangan sepakbola di sekolahku dulu.
Lumayan risih sih,dimana ada sesorang yang selalu ingin tahu soal keseharianmu padahal tiap 18 jam selalu tinggal seatap.

Saya punya 2 kakak tiri,dan mereka tak tak patut untuk saya jelaskan disini,privasi,jika diibaratkan brownies,mereka berdua adalah kismis,yah tau kan? Yang namanya brownies,tanpa kismis pun tetap brownies
ya lupakan saja bagian ini

kembali keawal cerita

saya dibesarkan di lingkungan bisnis,bahkan sejak umur 5 tahun saya sudah mengenal mata uang,mana uang yang patutnya ramai di kasir kasir outlet yang ada di mall dan mana uang yang seharusnya ada di kantung tukang parkir liar di minimarket,ya secepat itu saya tau hal hal rumit semisal uang.

waktu sd saya adalah seorang yang  menurut saya mudah diperdaya,tapi kelebihannya saya bebas bergaul dengan siapa saja,sampai saya mengenal ekstasi dan sabu diumur 7 tahun.
Bukan,bukan saya yang pakai,saya hanya melihat teman teman saya mengonsumsi seplastik butiran bening mirip kaca yang dibakar dengan api kecil didalam sebuah pyrex,asap yang halus dan tipis membuat saya berada dalam sebuah kamar gelap sendirian, raga mereka masih ada,tapi jiwa mereka terbawa oleh halusinasi hingga ke langit ke-7.

Masuk smp saya dikelilingi oleh kakak kakak kelas gila namun punya nurani seperti patrick star,tampang sangar hati hello kitty.
setiap hari diajakin ke kantin belakang,bersebelahan dengan wc,kantin "Tante Nia" seorang janda baik yang berjualan mie instan dibarengi nasi goreng dan telur,setiap kali makan kesana selalu dibarengi dengan kumpulan kakel (kakak kelas) yang melinting sebungkus  ganja sintetik lalu dibakar dan dihisap rame rame,yah itulah seniorku,dasar senior senior ga danta.

dari sinilah saya menarik kesimpulan jika diawal saya bilang hidup saya biasa saja,yah memang biasa.
Karena setiap hari saya bisa melihat apa yang orang orang anggap sebagai sampah,apa yang tidak biasa dilihat orang orang.
Dan bahkan,sampah pun bisa menjadi penerus negara,sampah pun punya nilai,entah semurah apapun nilainya kalau diasah/dikembangkan dengan semestinya,nilai yang sekecil apapun bisa berubah hingga sebesar truk ton ton pengangkut limbah.

Sudah jam 12 pagi,saya pamit dulu
maaf jika ada kata yang tidak semestinya tercantum dalam blog saya,sesungguhnya saya hanya manusia biasa yang tak tak luput dari kesalahan.

Selamat Tidur,salam buat seseorang dimimpimu

Have a nice dream